{"id":468,"date":"2022-02-02T10:28:00","date_gmt":"2022-02-02T03:28:00","guid":{"rendered":"https:\/\/bnsd.binus.ac.id\/graphic-design\/?p=468"},"modified":"2022-02-02T10:28:00","modified_gmt":"2022-02-02T03:28:00","slug":"budayawan-tionghoa-yang-menciptakan-200-motif-batik","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/international.binus.ac.id\/graphic-design\/2022\/02\/02\/budayawan-tionghoa-yang-menciptakan-200-motif-batik\/","title":{"rendered":"Budayawan TiongHoa yang menciptakan 200 motif batik"},"content":{"rendered":"<p>Pada tanggal 11 Mei 2021 lalu, Google doodle menampilkan<br \/>\nseorang pria yang mengenakan pakaian adat Jawa Tengah.<br \/>\nDia tampak membentangkan kain batik pada sebelah kiri.<br \/>\nKalau dicermati, kain tersebut berhiaskan motif yang<br \/>\nmenampilkan tulisan Google. Pria ini adalah K.R.T<br \/>\nHardjonagoro alias Go Tik Swan, budayawan Tionghoa yang<br \/>\nsangat tekun serta memiliki minat yang seragam.<br \/>\nGoogle bahkan menampilkan pria ini pada Google doodle<br \/>\nuntuk memperingati ulang tahunnya ke-90 yang jatuh pada<br \/>\ntanggal 11 Mei 2021. Go Tik Swan lahir di Solo pada tanggal<br \/>\n11 Mei 1931 dan wafat pada tanggal 5 November 2006. Pada<br \/>\nmasa mudanya, beliau dikenal sebagai penari Jawa alusan.<br \/>\nBahkan ketika beliau masih menjadi mahasiswa Jurusan<br \/>\nSemasa hidupnya, Tik Swan juga dikenal sebagai sosok yang<br \/>\nbersemangat dan memiliki minat terhadap tosan aji (keris).<br \/>\nInilah yang membuatnya mendirikan perkumpulan Bawarasa<br \/>\nTosan Aji di Solo pada tahun 1959<br \/>\nK.R.T Hardjonagoro kemudian diminta untuk menciptakan<br \/>\nbatik Indonesia dengan pola dan warna yang unik serta<br \/>\nberagam pada tahun 1957. Sejak saat itu, banyak desainer<br \/>\nbatik di Indonesia yang menjadikan Go Tik Swan sebagai<br \/>\npelopor batik<br \/>\n<img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-469\" src=\"http:\/\/international.binus.ac.id\/graphic-design\/files\/2022\/03\/Screenshot-2022-03-02-102924.png\" alt=\"\" width=\"381\" height=\"233\" \/><\/p>\n<p>Selain menjabat berbagai posisi tersebut, Tik Swan juga<br \/>\npernah mendapatkan banyak penghargaan. Dua diantaranya<br \/>\nyaitu Satya Lencana Kebudayaan dari Pemerintah RI (2001)<br \/>\ndan Bintang Sri Kabadya dari Keraton Surakarta.<br \/>\nK.R.T Hardjonagoro pun menandatangani wasiat yang berisi<br \/>\npenyerahan beberapa koleksinya yang berupa benda<br \/>\npurbakala kepada Pemerintah RI jika dirinya meninggal dunia.<br \/>\nKoleksinya yang sangat penting terdiri dari keris dan berbagai<br \/>\narca perunggu atau batu yang sangat langka.<br \/>\nPenandatanganan wasiat saat itu langsung disaksikan oleh<br \/>\nEdi Sedyawati, Direktur Jenderal Kebudayaan<\/p>\n<p>Budayawan Tionghoa yang<br \/>\nMencintai Kebudayaan Jawa<br \/>\n<img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-471\" src=\"http:\/\/international.binus.ac.id\/graphic-design\/files\/2022\/03\/Screenshot-2022-03-02-103603.png\" alt=\"\" width=\"591\" height=\"390\" \/><\/p>\n<p>Go Tik Swan pernah mendaftar kuliah di Fakultas Ekonomi<br \/>\nUniversitas Indonesia namun dia tidak menyelesaikan<br \/>\nkuliahnya tersebut. Kata hatinya menyatakan bahwa dia lebih<br \/>\nsenang dengan seni sehingga dia melanjutkan kuliahnya di<br \/>\nKecintaannya terhadap budaya Jawa inilah yang membuatnya<br \/>\nharus menentang keinginan kedua orang tuanya yang ingin<br \/>\ndia berkuliah di Fakultas Ekonomi.<br \/>\nSejak Bung Karno memintanya untuk membuat batik<br \/>\nIndonesia, beliau langsung kembali ke Solo untuk menekuni<br \/>\ndunia batik mulai dari sejarah hingga falsafahnya. Setelah<br \/>\nsaat itu menjabat sebagai wakil Presiden RI dan batik<br \/>\ntersebut diberi nama parang mega kusuma. Batik tersebut<br \/>\nberada di museum batik Danar Hadi, Solo<br \/>\nmengandung filosofi yang mendalam. Motif batik \u2018Kembang<br \/>\nBangah\u2019 mengandung filosofi surat cinta atas jati dirinya. Motif<br \/>\nini sempat menjadi motif batik yang populer pada tahun 1970-<br \/>\nan.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<h5>Telah Menciptakan Lebih dari 200<br \/>\nMotif Batik<br \/>\n<img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-470\" src=\"http:\/\/international.binus.ac.id\/graphic-design\/files\/2022\/03\/Screenshot-2022-03-02-103228.png\" alt=\"\" width=\"412\" height=\"197\" \/><\/h5>\n<p>Kecintaan terhadap batik mendorong Swan untuk melakukan<br \/>\nriset yang mendalam mengenai sejarah dan filsafatnya. Dia<br \/>\npun langsung belajar kepada ibunda Susuhunan Paku<br \/>\nBuwana XII yang memiliki pola-pola batik nusantara.<br \/>\nDari situlah Go Tik Swan mengembangkan dan menggali<br \/>\nberbagai pola tradisional yang sebelumnya tidak diketahui<br \/>\noleh banyak orang tanpa menghilangkan ciri dan hakikatnya.<br \/>\nDemikian informasi mengenai sosok Go Tik Swan, semoga<br \/>\nkisah hidupnya bisa menginspirasi kita semua<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Sources: <a href=\"https:\/\/id.theasianparent.com\/go-tik-swan\">Mengenal Sosok Go Tik Swan, Budayawan Pencipta Batik Asal Solo (theasianparent.com)<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pada tanggal 11 Mei 2021 lalu, Google doodle menampilkan seorang pria yang mengenakan pakaian adat Jawa Tengah. Dia tampak membentangkan kain batik pada sebelah kiri. Kalau dicermati, kain tersebut berhiaskan motif yang menampilkan tulisan Google. Pria ini adalah K.R.T Hardjonagoro alias Go Tik Swan, budayawan Tionghoa yang sangat tekun serta memiliki minat yang seragam. Google [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":41,"featured_media":470,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[],"class_list":["post-468","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-articles"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/international.binus.ac.id\/graphic-design\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/468"}],"collection":[{"href":"https:\/\/international.binus.ac.id\/graphic-design\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/international.binus.ac.id\/graphic-design\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/international.binus.ac.id\/graphic-design\/wp-json\/wp\/v2\/users\/41"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/international.binus.ac.id\/graphic-design\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=468"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/international.binus.ac.id\/graphic-design\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/468\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/international.binus.ac.id\/graphic-design\/wp-json\/wp\/v2\/media\/470"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/international.binus.ac.id\/graphic-design\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=468"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/international.binus.ac.id\/graphic-design\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=468"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/international.binus.ac.id\/graphic-design\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=468"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}