{"id":461,"date":"2022-02-02T10:09:59","date_gmt":"2022-02-02T03:09:59","guid":{"rendered":"https:\/\/bnsd.binus.ac.id\/graphic-design\/?p=461"},"modified":"2022-02-02T10:09:59","modified_gmt":"2022-02-02T03:09:59","slug":"kestimewaan-batik-lasem-laseman-yang-kaya-akan-motif-dan-warna","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/international.binus.ac.id\/graphic-design\/2022\/02\/02\/kestimewaan-batik-lasem-laseman-yang-kaya-akan-motif-dan-warna\/","title":{"rendered":"Kestimewaan Batik Lasem (Laseman) Yang Kaya Akan Motif dan Warna"},"content":{"rendered":"<p>Lasem adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. dan<br \/>\nmerupakan kota terbesar kedua di Kabupaten Rembang setelah kota<br \/>\nRembang. Lasem dikenal juga sebagai &#8220;Tiongkok kecil&#8221; karena merupakan<br \/>\nkota awal pendaratan orang Tionghoa di tanah Jawa dan terdapat<br \/>\nperkampungan Tionghoa yang sangat banyak. Di Lasem juga terdapat patung<br \/>\nBuddha Terbaring yang berlapis emas. Lasem dikenal sebagai kota santri, kota<br \/>\npelajar dan salah satu daerah penghasil buah jambu dan mangga selain hasil<br \/>\ndari laut seperti garam dan terasi. Namun yang paling dikenal dari daerah ini<br \/>\nadalah kain batik. Batik Lasem sangat terkenal karena cirinya sebagai batik<br \/>\npesisir yang indah dengan pewarnaan yang berani, terutama warna merahnya.<br \/>\nMenurut catatan sejarah, Lasem tempo dulu (1350-1375) adalah sebuah<br \/>\nkerajaan kecil di bawah Kerajaan Majapahit. Uniknya, sang pemimpin selalu<br \/>\nkaum wanita. Berdasarkan sumber sejarah lokal pada kitab Badrasanti (1478<br \/>\nMasehi), diperkirakan proses pembatikan di Lasem sudah berlangsung sejak<br \/>\nputeri Na Li Ni dari kerajaan Champa (Vietnam) mengajarkan teknik batik<br \/>\nkepada anak-anak di daerah Kemendung (Lasem) pada kurang lebih tahun<br \/>\n1420 Masehi. Na Lui Ni adalah isteri salah seorang nahkoda kapal Cheng Ho, Bi<br \/>\nNong Hua. Usai menemukan pujaan hatinya, sang nahkoda meminta ijin pada<br \/>\nCheng Ho untuk menetap di Lasem yang kemudian disetujui<\/p>\n<p>Batik Lasem Pagi Sore<br \/>\n<img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-460\" src=\"http:\/\/international.binus.ac.id\/graphic-design\/files\/2022\/03\/Screenshot-2022-03-02-100851.png\" alt=\"\" width=\"330\" height=\"262\" \/><br \/>\nSumber: http:\/\/www.lasembatikart.com<\/p>\n<p>Batik Lasem atau sering disebut Batik Laseman merupakan batik bergaya<br \/>\npesisiran yang kaya motif dan warna. Nuansa multikultur sangat terasa pada<br \/>\nlembaran Batik Lasem. Kombinasi motif dan warna Batik Lasem yang<br \/>\nterpengaruh desain budaya Tionghoa, Jawa, Lasem, Belanda, Champa, Hindu,<br \/>\nBuddha serta Islam tampak berpadu demikian serasi, anggun dan memukau.<br \/>\nWarna cerah Batik Lasem khususnya warna merah sangat terkenal di kalangan<br \/>\npecinta batik Indonesia.<br \/>\nCiri khusus Batik Lasem yang tidak akan temui pada batik manapun adalah<br \/>\nwarna merahnya yang terkenal dengan nama warna abang getih pithik atau<br \/>\nwarna darah ayam. Warna ini terbuat dari akar mengkudu dan akar jiruk<br \/>\nditambah air Lasem yang kandungan mineralnya sangat khas. Warna ini<br \/>\nbahkan tidak dapat dibuat di labolatorium. Selain indah, Batik Lasem juga kuat.<br \/>\nMakin dicuci, warnanya makin keluar. Warna merah tersebut telah diakui<br \/>\nsebagai warna merah terbaik yang tidak dapat ditiru pembuatannya di daerah<br \/>\nsentra batik lainnya. Akibatnya, tidaklah mengherankan jika banyak pengusaha<br \/>\nbatik di daerah lain (misal: Pekalongan, Surakarta, Yogyakarta, Semarang dan<br \/>\nCirebon) berusaha mendapatkan kain blangko bang-bangan, yaitu kain yang<br \/>\nbaru diberi pola dasar dan dicelup warna merah pada sebagian motifnya<\/p>\n<p>Batik Laseman<br \/>\n<img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-462\" src=\"http:\/\/international.binus.ac.id\/graphic-design\/files\/2022\/03\/laseman.png\" alt=\"\" width=\"341\" height=\"251\" \/><br \/>\nSumber: http:\/\/upload.wikimedia.org<\/p>\n<p>Selain itu, Batik Lasem klasik pun memiliki warna lain dan motif yang khas.<br \/>\nMisalnya, batik Bang-bangan (warna merah), Biron (biru), Bang-Biron (merahbiru), es teh atau Sogan (kekuningan), Tiga Negeri (merah-biru-cokelat), dan<br \/>\nEmpat Negeri atau Tiga Negeri Ungon (merah-biru-soga-ungu). Masingmasing warna memiliki makna dan pemakaian yang berbeda.<br \/>\nMotif Batik Lasem secara umum hanya ada dua motif, yakni motif Cina dan<br \/>\nnon Cina. Batik Lasem Motif Non Cina, yakni Batik Tulis Lasem yang motifmotifnya tidak dipengaruhi oleh budaya Cina. Motif Batik Lasem ini didominasi<br \/>\nmotif batik Jawa, diantaranya motif Sekar Jagad, Kendoro Kendiri, Grinsing,<br \/>\nKricak\/Watu Pecah, Pasiran, Lunglungan, Gunung Ringgit, Pring-pringan,<br \/>\nPasiran Kawung, Kawung Mlathi, Endok Walang, Bledak Mataraman, Bledak<br \/>\nCabe, Kawung Babagan, Parang Rusak, Parang Tritis, Latohan, Ukel, Alge,<br \/>\nCeplok Piring, Ceplok Benik, Sekar Srengsengan, Kembang Kamboja, dan Sido<br \/>\nMukti.<\/p>\n<p>Batik Lasem Motif Sekar Jagad<br \/>\n<img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-462\" src=\"http:\/\/international.binus.ac.id\/graphic-design\/files\/2022\/03\/laseman.png\" alt=\"\" width=\"341\" height=\"251\" \/><br \/>\nSumber: http:\/\/www.lasembatikart.com<\/p>\n<p>Batik Lasem Motif Cina, yakni Batik Tulis Lasem yang motifnya dipengaruhi<br \/>\nbudaya China, bahkan unsur orientalnya sangat kental dan dominatif,<br \/>\ndiantaranya motif fauna Cina plus non Cina. Contoh motif fauna Cina motif<br \/>\nburung hong (phoenix) yang dikenal sebagai Lok Can, naga (liong), kilin, ayam<br \/>\nhutan, ikan emas, kijang, kelelawar, kupu-kupu, kura-kura, ular, udang,<br \/>\nkepeting, dan sebagainya. Motif fauna Cina ini berkolaborasi dengan motif<br \/>\nbatik Jawa, seperti parang, udan riris, kawung, kendoro kendiri, sekar jagad,<br \/>\nanggur-angguran, dan sebagainya. Motif Flora Cina plus motif non Cina,<br \/>\nmisalnya bunga seruni (chrysanthemum), peoni, magnolia, sakura (cherry<br \/>\nblossom), bamboo, dsb. Motif \ufffdora Cina ini juga sering bersimbiosis<br \/>\nmutualisme dengan motif batik Jawa<\/p>\n<p>Batik Lasem Motif Burung Hong<br \/>\n<img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-463\" src=\"http:\/\/international.binus.ac.id\/graphic-design\/files\/2022\/03\/burung-hong.png\" alt=\"\" width=\"338\" height=\"249\" \/><br \/>\nSumber: http:\/\/mariarina.wordpress.com<\/p>\n<p>Motif lain bergaya Cina selain \ufffdora dan fauna plus motif batik non Cina.<br \/>\nContohnya motif kipas, banji, delapan dewa (pat sian), dewa bulan, koin uang<br \/>\n(uang kepeng). Motif kombinasi Cina plus motif batik non Cina. Maksud<br \/>\nkombinasi motif disini adalah dalam satu Batik Lasem keindahan motif fauna<br \/>\ndan \ufffdora Cina berbaur dengan keindahan motif-motif batik Jawa. Masing-<br \/>\nmasing motif ini memiliki makna tersendiri yang sangat kaya nilai<\/p>\n<p>Batik Lasem Motif Kipas<br \/>\n<img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-464\" src=\"http:\/\/international.binus.ac.id\/graphic-design\/files\/2022\/03\/kipas.png\" alt=\"\" width=\"340\" height=\"247\" \/><br \/>\nSumber: http:\/\/redayabatik.com<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-465\" src=\"http:\/\/international.binus.ac.id\/graphic-design\/files\/2022\/03\/laseman2.png\" alt=\"\" width=\"337\" height=\"250\" \/><br \/>\nSumber: http:\/\/redayabatik.com<\/p>\n<p>Motif Batik Laseman memiliki pengaruh sangat kuat pada batik Indramayu,<br \/>\nJambi, Palembang, pekalongan, Solo dan Yogyakarta. Seperti halnya pengaruh<br \/>\nmotif batik dari berbagai daerah tersebut dalam perkembangan dinamika<br \/>\nmotif dalam batik Lasem. Sebagai contoh, konon seni batik Indramayu<br \/>\ndiperkenalkan oleh para pengrajin batik dari Lasem. Pembatikan di Lasem<br \/>\nmenjadi industri rumah tangga yang memiliki kedudukan penting dalam<br \/>\nperekonomian penduduk Lasem. Hampir seluruh rumah tangga di Lasem<br \/>\nmengelola usaha batik. Kemajuan industri Batik Lasem sangat pesat.<br \/>\nPemasaran batik Lasem pada awal abad XX sudah meliputi seluruh Jawa,<br \/>\nSumatera, Bali, Thailand Selatan, Malaka dan Suriname. Tidak mengherankan<br \/>\njika industri Batik Lasem menjadi sebagai salah satu dari lima sentra batik<br \/>\nterbesar Hindia Belanda, sejajar dengan industri batik di daerah-daerah<br \/>\nSurakarta, Pekalongan, Yogyakarta dan Cirebon. Hal ini dimungkinkan karena<br \/>\ncukup banyaknya jumlah pengusaha batik yang cakap di Lasem. Pada tahun<br \/>\n1930 jumlah pengusaha batik di Lasem adalah 120 orang. Mereka seluruhnya<br \/>\nmerupakan pengusaha batik etnis Tionghoa. Kejayaan industri Batik Lasem<br \/>\nberlanjut sampai tahun 1942. Selama masa pendudukan Jepang, seluruh<br \/>\nusaha batik di Lasem ditutup. Barulah sekitar tahun 1950 pengusaha Batik<br \/>\nLasem mencoba bangkit kembali. Kemajuan usaha batik memang terjadi tidak<br \/>\nsecemerlang masa Hindia Belanda. Jumlah pengusaha Batik Lasem terus<br \/>\nberkurang akibat kurang lancarnya regenerasi pengusaha batik, krisis ekonomi<br \/>\nnasional dan ketatnya persaingan antar sesama pengusaha batik. Permintaan<br \/>\nterhadap kain Batik Lasem menurun tajam akibat perubahan gaya pakaian<br \/>\nmasyarakat Indonesia yang mulai mengadopsi gaya pakaian barat. Jumlah<br \/>\npengusaha Batik Lasem terkikis tajam dari sekitar 140 orang (+\/- tahun 1970)<br \/>\nmenjadi hanya tinggal 18 orang (tahun 2004).<br \/>\nKondisi tersebut menyebabkan rendahnya daya serap industri Batik Lasem<br \/>\nterhadap para pembatik potensial di berbagai desa tertinggal. Akibatnya,<br \/>\npengangguran tenaga kerja pembatik pun tidak dapat dihindarkan. Sementara<br \/>\nitu, generasi muda dari keluarga pembatik enggan meneruskan pembatikan<br \/>\nakibat relatif rendahnya upah kerja di industri batik tradisional dibandingkan<br \/>\ndengan upah pekerjaan lain di sektor modern. Pengetahuan budaya Batik<br \/>\nLasem juga masih sangat terbatas di kalangan generasi muda Kabupaten<br \/>\nRembang. Kurangnya data tentang sejarah, ragam motif, fungsi dan nilai<br \/>\n\ufffdloso\ufffd Batik Lasem menyebabkan sulitnya pengembangan pendidikan<br \/>\nbudaya Batik Lasem, baik sebagai pelajaran muatan lokal di sekolah maupun<br \/>\nsebagai kegiatan pendidikan non formal di bidang ketrampilan batik di<br \/>\nlingkungan keluarga. Akibatnya, kelestarian budaya Batik Lasem sulit dijamin<br \/>\ndi masa yang akan datang. Untuk itu, sinergi multi pihak peduli, termasuk kita<br \/>\nsendiri sebagai unsur bangsa Indonesia, sangat diperlukan dalam penguatan<br \/>\nkesadaran budaya serta daya saing industri Batik Lasem.<br \/>\nProses pembuatan Batik Lasem hampir sama dengan pembuatan batik tulis di<br \/>\ndaerah lain. Produk akhir Batik Tulis Lasem menjadi bahan pakaian sehari-hari,<br \/>\nkain panjang, sarung, selendang, tokwi, dan lain-lain.<\/p>\n<p>Proses Pembatikan<br \/>\n<img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-466\" src=\"http:\/\/international.binus.ac.id\/graphic-design\/files\/2022\/03\/proses.png\" alt=\"\" width=\"339\" height=\"221\" \/><br \/>\nSumber: http:\/\/redayabatik.com<br \/>\nAnda bisa menjadikan Batik Lasem sebagai salah satu koleksi batik anda<br \/>\nsahabat Fitinline. Semoga artikel kali ini bermanfaat untuk anda<\/p>\n<p>sources: <a href=\"https:\/\/fitinline.com\/article\/read\/batik-lasem\/\">Kestimewaan Batik Lasem (Laseman) Yang Kaya Akan Motif dan Warna (fitinline.com)<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Lasem adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. dan merupakan kota terbesar kedua di Kabupaten Rembang setelah kota Rembang. Lasem dikenal juga sebagai &#8220;Tiongkok kecil&#8221; karena merupakan kota awal pendaratan orang Tionghoa di tanah Jawa dan terdapat perkampungan Tionghoa yang sangat banyak. Di Lasem juga terdapat patung Buddha Terbaring yang berlapis emas. Lasem dikenal [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":41,"featured_media":466,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[],"class_list":["post-461","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-articles"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/international.binus.ac.id\/graphic-design\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/461"}],"collection":[{"href":"https:\/\/international.binus.ac.id\/graphic-design\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/international.binus.ac.id\/graphic-design\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/international.binus.ac.id\/graphic-design\/wp-json\/wp\/v2\/users\/41"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/international.binus.ac.id\/graphic-design\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=461"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/international.binus.ac.id\/graphic-design\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/461\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/international.binus.ac.id\/graphic-design\/wp-json\/wp\/v2\/media\/466"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/international.binus.ac.id\/graphic-design\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=461"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/international.binus.ac.id\/graphic-design\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=461"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/international.binus.ac.id\/graphic-design\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=461"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}