{"id":1753,"date":"2025-05-02T02:08:09","date_gmt":"2025-05-02T02:08:09","guid":{"rendered":"https:\/\/international.binus.ac.id\/graphic-design\/?p=1753"},"modified":"2025-05-27T02:21:07","modified_gmt":"2025-05-27T02:21:07","slug":"kreator-ryan-adriandhy-berbagi-cerita","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/international.binus.ac.id\/graphic-design\/2025\/05\/02\/kreator-ryan-adriandhy-berbagi-cerita\/","title":{"rendered":"Kreator: Ryan Adriandhy Berbagi Cerita"},"content":{"rendered":"<p><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/media.suara.com\/pictures\/653x366\/2025\/04\/29\/10066-ryan-adriandhy-sutradara-film-jumbo.jpg\" alt=\"Film Animasi Jumbo dari Kacamata Sang Kreator: Ryan Adriandhy Berbagi Cerita\" \/><\/p>\n<p>Indonesia patut berbangga. Di tengah dominasi\u00a0film\u00a0animasi asing, hadir karya orisinal anak bangsa yang mampu menunjukkan taringnya: Jumbo.\u00a0Film\u00a0animasi ini menjadi bukti bahwa talenta kreatif dalam negeri tidak kalah saing dalam hal kualitas cerita, teknik visual, maupun kedalaman pesan.<br \/>\nDisutradarai oleh Ryan Adriandhy, Jumbo menyuguhkan kisah yang unik dan menyentuh, mengangkat isu-isu seperti identitas, penerimaan diri, dan absurditas sosial dalam balutan visual yang jenaka dan penuh makna.<br \/>\nMengangkat tema perundungan anak dan arti persahabatan, serta pentingnya dukungan keluarga,\u00a0film\u00a0ini berkisah tentang seorang anak yatim piatu berusia 10 tahun bernama Don, yang sering diremehkan karena memiliki tubuh yang besar.<\/p>\n<p>Sebagai bentuk penghargaan atas karya dan kontribusi alumni di dunia industri kreatif tanah air, BINUS University International menyelenggarakan acara Nonton Bareng (Nobar)\u00a0film Jumbo\u00a0bersama sang kreator, Selasa (29\/04\/2025).<br \/>\nRyan Adriandhy merupakan salah satu alumni Binus University International program Graphic Design and New Media (GDNM) dari Binus Northumbria School Of Design (BNSD) yang berhasil membanggakan sebagai alumni berkat gagasannya dalam penggarapan film \u201cJumbo\u201d.<br \/>\n\u201cRyan adalah salah satu contoh nyata dari lulusan kami yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga berhasil berkontribusi secara nyata di industri kreatif Indonesia,\u201d ujar Dr. Nelly, S.Kom., M.M., selaku Rektor Binus University.<\/p>\n<p>Ryan yang hadir langsung untuk berbagi cerita di balik proses kreatif pembuatan Jumbo, memaparkan bagaimana latar belakang pendidikannya di GDNM membentuk cara berpikir visual dan storytelling-nya sehingga dapat berkontribusi langsung dalam penggarapan\u00a0film animasi\u00a0yang fenomenal tersebut.<br \/>\n\u201cSebagai alumni, Binus berperan dalam proses pengembangan saya dalam menciptakan animasi, bertahun-tahun saya belajar di Universitas dengan banyak teori, memberikan saya dasar yang kuat dalam memahami storytelling dari perspektif visual dan naratif,\u201d ujar Ryan.<br \/>\nIa juga menambahkan dalam penggarapan film ini, proses pembuatan dilakukan dua kali. Pertama kali dilakukan saat masih dalam bentuk animasi dari storyboard, untuk memastikan efisiensi produksi.<br \/>\nTujuannya adalah agar cerita sudah disetujui oleh semua pihak, termasuk produser dan eksekutif produser, sebelum masuk ke tahap animasi.<br \/>\nDengan begitu, tidak ada adegan animasi yang terbuang sia-sia karena semuanya sudah dipastikan durasi dan waktunya sejak tahap animasi storyboard.<br \/>\nYang kedua adalah proses pengisian suara, dalam produksi ini, suara direkam terlebih dahulu, lalu animasi disesuaikan dengan rekaman tersebut.<br \/>\nHal Ini berbeda dengan praktik umum di Indonesia, di mana kita terbiasa melihat animasi luar negeri yang didubbing ke dalam bahasa Indonesia.<br \/>\nKarena itulah, banyak orang mengenal pengisi suara sebagai dubber, padahal dalam produksi ini perannya lebih sebagai aktor suara utama yang menjadi acuan animasi.<br \/>\nSelain itu, ia juga menceritakan bagaimana dirinya sempat ditolak karena anggaran dalam membuat animasi memerlukan biaya yang cukup besar dan membutuhkan waktu yang lama dalam proses pembuatannya.<br \/>\nPada akhirnya, ide ia disambut baik dan diterima oleh Visime Studios, yang membuat Ryan merasa senang pada akhirnya menemukan rumah untuk membuat animasinya menjadi sebuah\u00a0film.<br \/>\nSebelum sesi nobar, Ryan memberikan nasihat kepada mahasiswa yang saat ini berkuliah di tempat yang sama dengannya dulu, ia mengingatkan untuk terus berkreasi dan jangan pernah mengejar kesempurnaan, karena hal tersebut tidak akan pernah terjadi.<br \/>\nKemudian, sesi nobar bersama para mahasiswa BINUS International dan media partner dimulai, dalam sesi ini dapat dilihat bahwa atmosfer kekeluargaan dan apresiasi yang hangat dari seluruh orang yang hadir.<br \/>\nBeberapa mahasiswa bahkan menyampaikan langsung rasa kagum mereka kepada Ryan, yang mereka anggap sebagai inspirasi nyata bahwa lulusan BINUS dapat berkarya di panggung nasional.<br \/>\nMelalui acara ini, BINUS University International tidak hanya memberikan apresiasi kepada alumninya, tetapi juga membangun semangat bagi mahasiswa aktif untuk terus berkarya dan mengejar mimpi di industri kreatif.<br \/>\nAcara ini juga menjadi bagian dari komitmen Binus University untuk mendukung pengembangan talenta kreatif dan digital untuk memperkuat ekosistem alumni melalui kolaborasi, apresiasi, dan koneksi.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Source:<br \/>\nhttps:\/\/www.suara.com\/lifestyle\/2025\/04\/29\/235409\/film-animasi-jumbo-dari-kacamata-sang-kreator-ryan-adriandhy-berbagi-cerita<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Indonesia patut berbangga. Di tengah dominasi\u00a0film\u00a0animasi asing, hadir karya orisinal anak bangsa yang mampu menunjukkan taringnya: Jumbo.\u00a0Film\u00a0animasi ini menjadi bukti bahwa talenta kreatif dalam negeri tidak kalah saing dalam hal kualitas cerita, teknik visual, maupun kedalaman pesan. Disutradarai oleh Ryan Adriandhy, Jumbo menyuguhkan kisah yang unik dan menyentuh, mengangkat isu-isu seperti identitas, penerimaan diri, dan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":41,"featured_media":1754,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-1753","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/international.binus.ac.id\/graphic-design\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1753"}],"collection":[{"href":"https:\/\/international.binus.ac.id\/graphic-design\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/international.binus.ac.id\/graphic-design\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/international.binus.ac.id\/graphic-design\/wp-json\/wp\/v2\/users\/41"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/international.binus.ac.id\/graphic-design\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1753"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/international.binus.ac.id\/graphic-design\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1753\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1756,"href":"https:\/\/international.binus.ac.id\/graphic-design\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1753\/revisions\/1756"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/international.binus.ac.id\/graphic-design\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1754"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/international.binus.ac.id\/graphic-design\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1753"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/international.binus.ac.id\/graphic-design\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1753"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/international.binus.ac.id\/graphic-design\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1753"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}