Pompeii Menunggu Gunung Meletus

Dengan gerakan slow-motion, Milo (Kit Harrington) berjalan memasuki arena yang penuh dengan kepulan asap yang mengaburkan sosoknya. Begitu asap itu menghilang, barulah penonton bisa melihat dengan jelas bentuknya yang rupawan, rahang kotaknya yang kaku dan tajam, perutnya yang kotak-kotak dan keahliannya memainkan pedang dan benda-benda tajam lainnya. Dan, saat itulah segerombolan perempuan berteriak dan mendesis senang.

Apakah Kit Harrington mempunyai kualitas akting yang bagus? Tentu saja tidak. Tapi itu memang bukan tujuan utama orang ingin menonton ‘Pompeii’. Tujuan utama penonton adalah ingin merasakan perasaan ketakutan dan adrenalin terpompa dalam adegan-adegan penuh dengan orang mati dan kemarahan alam. Pengalaman yang ingin penonton rasakan seperti ketika mereka menonton film-film bencana semisal ‘2012’, ‘The Day After Tomorrow’, ‘Independence Day’ atau ‘Twister’.

Dalam ‘Pompeii’, yang ingin penonton rasakan adalah momen spektakuler ketika seluruh rakyat Pompeii hangus terkena ledakan Vesuvius yang legendaris. Sayangnya, Anda harus menunggu lebih lama. Tim penulis skrip –Michael Robert Johnson, Lee Batchler dan Janet Scott Batchler– merasa bahwa penonton perlu lebih dekat dan peduli dengan dua karakter utamanya, Milo dan Cassia (Emily Browning). Sayangnya, tidak seperti ‘Titanic’, tim penulis skenario tersebut tak bisa membuat cerita tentang pasangan beda sosial status yang tragis dan menyentuh.

Kemesraan Milo dan Cassia hanya terbatas naik kuda dikejar-kejar bola api dan saling melirik satu sama lain dalam radius sepuluh meter. Hal tersebut diperparah dengan minimnya chemistry antara pemeran kedua karakter tersebut. Emily Browning dan Kit Harrington tidak bisa memberikan sesuatu yang membuat penonton menangis saat cinta mereka tidak bersatu, atau geram ketika cinta mereka diganggu oleh Senator Corvus yang kejam (Kiefer Sutherland, dalam akting paling berlebihan sepanjang masa). Hasilnya nihil.

 

Tapi, seperti yang saya bilang di awal, semua itu hanyalah sub-plot. Cerita utamanya adalah bagaimana Gunung Vesuvius yang megah meluluh-lantakkan kota Pompeii yang legendaris. Paul W.S Anderson, sutradara di balik franchise ‘Resident Evil’, benar-benar total ketika dia mulai menggetarkan sang gunung. Didukung dengan efek visual yang meyakinkan dan sinematografi yang mengesankan dalam menggambarkan kemegahan Pompeii, adegan-adegan tersebut hampir bisa dikatakan membuat uang yang Anda pakai untuk membeli tiket film ini terasa impas.

Hampir, karena sayangnya, adegan yang ditunggu-tunggu tersebut tidak kunjung muncul hingga 45 menit terakhir. Berbeda dengan ‘2012’ yang mempunyai premis yang mirip –cerita manusianya hanya sampingan, pertunjukan utamanya adalah kekacauan– ‘Pompeii’ terlalu jaim untuk menunjukkan kemarahan dan atraksi utamanya. Tapi, kalau memang Anda ingin merasakan visual letusan Gunung Vesuvius yang menggetarkan, aktor-aktris rupawan dengan kostum minimalis, dan orang-orang berlarian ketakutan, ‘Pompeii’ bisa jadi film pilihan.

Candra Aditya penulis, pecinta film. Kini tengah menyelesaikan studinya di Jurusan Film, Binus International, Jakarta.

Sumber : http://hot.detik.com/movie/read/2014/02/25/112102/2507499/229/pompeii-menunggu-gunung-meletus?hd772204btr

Download : Pompeii Menunggu Gunung Meletus