People Innovation Excellence

‘Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children’: Keanehan Minim Daya Pikat

9a711284-390c-46bc-adc4-a8601775c0d0_169Jakarta – Tim Burton kembali lagi. Setelah berkutat dengan biopik lewat ‘Big Eyes’, Burton kembali dengan kisah-kisah gelap bernuansa gotik dalam ‘Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children’. Diadaptasi dari novel best-seller karya Ransom Riggs, film ini adalah alternatif menarik bagi Anda yang rindu dengan film-film fantasi yang agak nyeleneh.

Jake (Asa Butterfield) adalah bocah pria yang berusaha menjadi remaja biasa. Ia menghabiskan liburannya dengan kerja sambilan. Tapi sekeras apapun usaha Jake untuk terlihat normal, teman-teman sebayanya menganggapnya aneh.

Kemudian suatu hari, Jake menemukan kakeknya meninggal dalam keadaan tak wajar. Kedua bola matanya hilang. Jake yang shock dibawa kedua orangtuanya ke psikiater. Di sana Jake meminta untuk pergi ke Wales, tempat kakeknya dibesarkan. Orangtua Jake bersikeras bahwa apapun yang diceritakan kakek Jake sewaktu dia kecil hanyalah dongeng. Tapi Jake tahu, di dalam hatinya, bahwa apapun yang diceritakan kakeknya lebih dari sekedar dongeng sebelum tidur.

Orangtua akhirnya setuju untuk membiarkan Jake mengunjungi Wales. Di sana Jake pergi ke rumah anak-anak kakeknya yang diurus oleh kepala sekolah bernama Miss Peregrine (Eva Green). Sayangnya, tempat tersebut sudah hancur karena serangan bom. Di tengah kesendiriannya, Jake mendapati bahwa dia sedang diawasi oleh beberapa anak kecil. Jake pingsan dan terbangun di sebuah gua.

Kemudian Jake dibawa melewati ruang-waktu dan tiba di tempat yang sama pada 1943. Itu adalah tahun ketika rumah tersebut masih segar bugar dan berdiri tegak. Di sanalah dia melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa apapun yang diceritakan oleh kakeknya bukan sekedar dongeng. Makhluk-makhluk “spesial” ini adalah teman-teman kakeknya. Dan kini Jake mulai tersadar bahwa mereka dalam bahaya.

Kisah tentang sekumpulan anak-anak spesial yang tidak biasa ini begitu cocok dengan keahlian Burton dalam melukis karakter-karakter yang nyeleneh. ‘Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children’ bukanlah cerita anak-anak standar yang warna-warni, meskipun filmnya memulai dengan cara itu. Untuk sutradara yang pernah membuat film kisah cinta seorang gadis biasa dengan monster bertangan gunting, Burton adalah orang yang tepat untuk menggambarkan sekumpulan anak-anak kecil aneh dengan kekuatan nyeleneh seperti Manusia Proyektor atau anak kecil yang mempunyai mulut dengan gigi panjang di belakang kepalanya.

Yang menyebabkan film ini kurang maksimal adalah di bagian skripnya. Jane Goldman sebagai penulis skenario belum bisa mengoptimalkan cerita. Penonton (dan juga Jake sebagai mata penonton) tidak pernah dikenalkan kepada karakter-karakter aneh itu dengan intim. Kita tidak pernah mengetahui latarbelakang mereka. Karakterisasi mereka hanya sebatas ‘keanehan’.

Editing yang loyo juga membuat film ini jadi kurang greget. Secara plot, film ini memang cukup membingungkan untuk anak-anak. Apalagi di babak ketiganya yang melibatkan berbagai banyak konsekuensi atas lorong waktu. Terlalu banyaknya adegan eksposisi justru membuat filmnya kepanjangan dan melelahkan.

Tim Burton memang masih bisa menyelamatkan filmnya kali ini dengan kemampuannya yang di atas rata-rata dalam memvisualisasikan sesuatu yang aneh dan misterius dalam frame yang indah sekaligus menyeramkan. Desain monsternya cukup menakutkan untuk film anak-anak dan beberapa adegannya sangatlah menegangkan. Namun, di tengah jalan Burton juga kehilangan sentuhannya sendiri. Di akhir film, Burton mendadak menyerah dan menjadikan semua keanehan ini “gimmick” belaka.

Film yang tadinya berpotensi menjadi film anak-anak yang tak biasa, akhirnya kesandung menjadi film keluarga yang konvensional. ‘Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children’ jelas bukan karya terbaik Burton. Tapi, jika Anda kangen dengan karya-karyanya, atau film anak-anak yang berbeda dari biasanya, ya tentu film ini tetap mesti dicicip.

Candra Aditya penulis, pecinta film. Kini tengah menyelesaikan studinya di Jurusan Film, Binus International, Jakarta.

Source:
https://hot.detik.com/movie/3315733/miss-peregrines-home-for-peculiar-children-keanehan-minim-daya-pikat

Published at :
Leave Your Footprint

    Periksa Browser Anda

    Check Your Browser

    Situs ini tidak lagi mendukung penggunaan browser dengan teknologi tertinggal.

    Apabila Anda melihat pesan ini, berarti Anda masih menggunakan browser Internet Explorer seri 8 / 7 / 6 / ...

    Sebagai informasi, browser yang anda gunakan ini tidaklah aman dan tidak dapat menampilkan teknologi CSS terakhir yang dapat membuat sebuah situs tampil lebih baik. Bahkan Microsoft sebagai pembuatnya, telah merekomendasikan agar menggunakan browser yang lebih modern.

    Untuk tampilan yang lebih baik, gunakan salah satu browser berikut. Download dan Install, seluruhnya gratis untuk digunakan.

    We're Moving Forward.

    This Site Is No Longer Supporting Out-of Date Browser.

    If you are viewing this message, it means that you are currently using Internet Explorer 8 / 7 / 6 / below to access this site. FYI, it is unsafe and unable to render the latest CSS improvements. Even Microsoft, its creator, wants you to install more modern browser.

    Best viewed with one of these browser instead. It is totally free.

    1. Google Chrome
    2. Mozilla Firefox
    3. Opera
    4. Internet Explorer 9
    Close