People Innovation Excellence

‘Train To Busan’: Film Zombie dengan Hati

bac3e268-3153-4d35-9eb6-88afe0a008a1_169Jakarta – Seok-woo (Gong Yoo) adalah seorang workaholic. Sebagai fund manager, Seok-woo mengorbankan kehidupan pribadinya demi pekerjaan. Itulah sebabnya istrinya meninggalkannya. Hubungan dengan anaknya pun tidak rukun. Seok-woo jarang berjumpa dengan putri semata wayangnya, Su-an (Kim Su-an). Saking berjaraknya hubungan antara Seok-woo dengan anaknya, Seok-woo bahkan tidak tahu hadiah ulang tahun apa yang paling pantas diberikan kepadanya.

Ternyata, di hari ulang tahunnya, Su-an hanya minta satu: bertemu kembali dengan ibunya di Busan. Seok-woo yang merasa bersalah akhirnya menuruti keinginan anaknya. Subuh itu, Seok-woo membawa anaknya menaiki kereta untuk menemui istrinya. Dalam perjalanan menuju Busan, seorang perempuan yang nampak sakit masuk ke dalam kereta. Kemudian dia berubah menjadi zombie dan menyerang penumpang kereta. Dalam sekejap, misi Seok-woo pun berubah. Kini, bertahan hidup dan menyelamatkan anaknya adalah agenda utamanya.

Mudah sekali menyebut ‘Train To Busan’ sebagai “Snowpiercer dengan zombie”. Ditulis oleh Park Joo-suk dan disutradarai oleh Yeon Sang-ho, film ini memang memiliki setting yang sama dengan film garapan Bong Joon-ho tersebut. Namun kesamaan itu hanya berhenti di sana. ‘Train To Busan’ memiliki keunikan sendiri dibandingkan dengan ‘Snowpiercer’.

Jika ‘Snowpiercer’ menawarkan sebuah petualangan yang ditujukan ke penonton dewasa dengan kekerasan, kritik sosial dan twist yang begitu menusuk ulu hati, maka ‘Train To Busan’ masih bisa ditonton oleh para remaja. Genre zombie memang biasanya dirancang bagi penonton dewasa, namun film ini menawarkan sebuah cerita keluarga yang kuat sehingga penonton remaja pun akan tetap bisa menikmatinya. Hal ini juga merupakan salah satu poin positif yang disuguhkan oleh film ini.

Tanpa adegan kekerasan yang vulgar seperti film zombie umumnya, ‘Train To Busan’ tidak pernah kehilangan daya tariknya. Sang-ho sebagai sutradara meracik ketegangan dengan piawai. Tanpa jeda, penonton segera dibombardir dengan teror yang tiada henti. Setiap momen terasa seperti sebuah petak umpet yang mematikan. Penonton tidak pernah dibiarkan untuk bernapas selama dua jam. Kalau pun filmnya hening, penonton malah akan semakin deg-degan karena Sang-ho selalu bersiap-siap untuk meledakkan kejutan di menit berikutnya.

Selain ketegangan yang tiada tara, film ini begitu memikat karena tidak pernah kehilangan hati nuraninya. Berbeda dengan film-film sejenis—yang kebanyakan dibuat Hollywood—Park Joo-suk merangkai ‘Train To Busan’ dengan karakter-karakter yang humanis. Mereka mudah disukai dan tiga dimensi. Apapun yang mereka lakukan, terutama pemain utamanya, akan membuat penonton segera mendukung upaya mereka untuk tetap berjuang hidup.

Sang-ho tidak hanya piawai dalam mengatur ketegangan. Ia juga sanggup menerjemahkan drama yang ditulis Joo-suk dengan baik. Tidak heran jika Anda akan berkaca-kaca menyaksikan film zombie ini. Ketika film berakhir, penonton akan bertanya-tanya apakah ‘Train To Busan’ sebenarnya adalah film keluarga yang kebetulan ber-setting di tengah kegilaan zombie?

Gong Yoo yang melejit lewat serial Korea ‘The First Shop of Coffee Prince dan Big’ berhasil mengemban tugas sebagai pemain utama dengan baik. Alasan utama kenapa ‘Train To Busan’ sanggup menjadi sebuah drama yang menyentuh adalah karena Gong Yoo bisa menyampaikan emosinya dengan epik. Chemistry-nya dengan Kim Su-an yang berperan sebagai anaknya menjadi salah satu faktor yang membuat film ini jadi fenomenal.

Dengan sinematografi yang mantap, musik yang juara dan spesial efek yang memadai, ‘Train To Busan’ menunjukkan bahwa film zombie tak selamanya harus mati rasa. Film ini membuktikan bahwa dibutuhkan hati yang besar untuk membuat film tentang teror mayat berjalan tidak hanya menegangkan namun juga luar biasa memuaskan.

Candra Aditya penulis, pecinta film. Kini tengah menyelesaikan studinya di Jurusan Film, Binus International, Jakarta.

Source:
http://hot.detik.com/movie/3297910/train-to-busan-film-zombie-dengan-hati?h991102207

Published at :
Leave Your Footprint

    Periksa Browser Anda

    Check Your Browser

    Situs ini tidak lagi mendukung penggunaan browser dengan teknologi tertinggal.

    Apabila Anda melihat pesan ini, berarti Anda masih menggunakan browser Internet Explorer seri 8 / 7 / 6 / ...

    Sebagai informasi, browser yang anda gunakan ini tidaklah aman dan tidak dapat menampilkan teknologi CSS terakhir yang dapat membuat sebuah situs tampil lebih baik. Bahkan Microsoft sebagai pembuatnya, telah merekomendasikan agar menggunakan browser yang lebih modern.

    Untuk tampilan yang lebih baik, gunakan salah satu browser berikut. Download dan Install, seluruhnya gratis untuk digunakan.

    We're Moving Forward.

    This Site Is No Longer Supporting Out-of Date Browser.

    If you are viewing this message, it means that you are currently using Internet Explorer 8 / 7 / 6 / below to access this site. FYI, it is unsafe and unable to render the latest CSS improvements. Even Microsoft, its creator, wants you to install more modern browser.

    Best viewed with one of these browser instead. It is totally free.

    1. Google Chrome
    2. Mozilla Firefox
    3. Opera
    4. Internet Explorer 9
    Close