People Innovation Excellence

‘The Divergent Series: Allegiant’: Kesenangan yang Menguap Begitu Saja

Jakarta – Setelah melihat perbedaan faksi dalam ‘Divergent’ kemudian kita menyaksikan pemberontakan yang terjadi dalam ‘Insurgent’, ‘Allegiant’ yang merupakan bagian pertama dari jilid terakhir serial ‘Divergent’ yang dipecah jadi dua seperti seri terakhir ‘Twilight’, ‘Harry Potter’ dan ‘Hunget Games’ menawarkan jawaban atas misteri apa yang sebenarnya ada di balik tembok.

Dengan tewasnya Jeanine (Kate Winslet), Evelyn (Naomi Watts) sekarang bebas merdeka untuk menjadi pemimpin. Hal yang ditakutkan oleh banyak orang terutama oleh Four (Theo James) dan Johanna Reyes (Octavia Spencer). Dan, ketakutan ini terbukti. Evelyn menggunakan kekuatannya untuk mulai menghabisi anak buah Jeanine di hadapan massa yang haus darah.

Tris (Shailene Woodley) yang diminta Johanna untuk berdiri dan mengeluarkan suara ternyata hanya diam saja. Di kepalanya cuma ada satu: mencari tahu apa yang sebenarnya ada di balik tembok. Evelyn menggunakan segala kekuatannya menjaga agar tidak ada orang yang berhasil lewat. Hal ini membuat usaha Tris menjadi sedikit terhambat.

Namun bukan Tris namanya kalau dia tidak bekerja sekuat tenaga untuk mendapatkan apa yang ia mau. Bekerja sama dengan Tori (Maggie Q), Tris bersama Four, Christina (Zoe Kravitz), Peter (Miles Teller) dan saudara Tris, Caleb (Ansel Elgort), mereka mencoba lolos dari kejaran para anak buah Evelyn dan melihat mimpi buruk yang menanti mereka di balik tembok. Dan ternyata, faksi-faksi ini hanyalah awal dari serangkaian masa depan suram yang menanti Tris dan kawan-kawan.

Diadaptasi oleh Stephen Chbosky, Adam Cooper, Bill Collage dan Noah Oppenheim, ‘Allegiant’ tampil utuh. Film ini berusaha keras menghindati label “foreplay” seperti yang biasa terasa pada bagian pertama jilid terakhir sebuah franchise yang dipecah jadi dua karena faktor dollar. ‘Deathly Hallows Part 1’, ‘Breaking Dawn Part 1’ dan ‘Mockingjay Part 1’ membuktikan bahwa mereka berfungsi hanya sebagai “foreplay” sebelum adegan gila-gilaannya disajikan terus-menerus di bagian kedua. Film ini berhasil menghindari itu semua. ‘Allegiant’ tetap terasa utuh dan berhasil menjadi satu film yang berdiri sendiri.

Robert Schwentke yang menyutradarai film sebelumnya kali ini kembali lagi ke kursi sutradara. Visualnya cukup memuaskan, terutama di bagian ketika para pahlawan ini terdampar di dunia yang tidak ramah. Sayangnya, adegan aksi yang ditawarkan tidak ada yang menarik dan mengguncang. Tidak ada kejutan-kejutan yang berarti. Semuanya main aman. Untungnya, editing dari Stuart Levy cukup efektif untuk membuat filmnya berjalan halus tanpa terasa lambat.

Yang menjadi masalah utama film ini adalah kefamiliarannya. Tren buku young adult-adventure-dystopian mewabah semenjak ‘Hunger Games’ dipuja para remaja. Adaptasi film-film yang serupa langsung mengikuti jejak Katniss untuk narsis di layar lebar. Veronica Roth dengan seri ‘Divergent’-nya berhasil menjadi salah satu seri yang diidam-idamkan oleh para remaja. Sayangnya, kefamiliaran plot seri ini membuat petualangan Tris menjadi seperti deja vu.

Perilisan yang berbarengan dengan seri ‘Maze Runner’ dan ‘Hunger Games’ juga tak membantu untuk membuat ‘Divergent’ terlihat original. ‘Insurgent’, bagian kedua dari seri ini terasa seperti film pertama ‘Maze Runner’. Film pertamanya seperti modofikasi ‘Hunger Games’. Dan kali ini, ‘Allegiant’ terasa seperti ‘Mockingjay’ versi 2.0.

Bahkan karakter seperti Evelyn sangat mirip dengan karakter Alma Coin yang diperankan oleh Julianne Moore dalam ‘Mockingjay.’ Sama-sama perempuan, lahir dari latar belakang tertindas kemudian berakhir dengan haus kekuasaan. Kemiripan ini membuat serial ‘Divergent’ jadi sangat basi.

Ketika plot sudah hangus duluan, adegan-adegan yang mengejutkan harusnya menjadi jalan tengah. Sayangnya, ‘Allegiant’ tidak mempunyai itu. Alhasil, film ini hanya berakhir menjadi film yang menyenangkan untuk ditonton tapi tidak akan Anda ingat begitu Anda meninggalkan kegelapan teater.

Candra Aditya penulis, pecinta film. Kini tengah menyelesaikan studinya di Jurusan Film, Binus International, Jakarta.

Sumber:
http://m.detik.com/hot/premiere/3169547/the-divergent-series-allegiant-kesenangan-yang-menguap-begitu-saja


Published at : Updated
Leave Your Footprint

    Periksa Browser Anda

    Check Your Browser

    Situs ini tidak lagi mendukung penggunaan browser dengan teknologi tertinggal.

    Apabila Anda melihat pesan ini, berarti Anda masih menggunakan browser Internet Explorer seri 8 / 7 / 6 / ...

    Sebagai informasi, browser yang anda gunakan ini tidaklah aman dan tidak dapat menampilkan teknologi CSS terakhir yang dapat membuat sebuah situs tampil lebih baik. Bahkan Microsoft sebagai pembuatnya, telah merekomendasikan agar menggunakan browser yang lebih modern.

    Untuk tampilan yang lebih baik, gunakan salah satu browser berikut. Download dan Install, seluruhnya gratis untuk digunakan.

    We're Moving Forward.

    This Site Is No Longer Supporting Out-of Date Browser.

    If you are viewing this message, it means that you are currently using Internet Explorer 8 / 7 / 6 / below to access this site. FYI, it is unsafe and unable to render the latest CSS improvements. Even Microsoft, its creator, wants you to install more modern browser.

    Best viewed with one of these browser instead. It is totally free.

    1. Google Chrome
    2. Mozilla Firefox
    3. Opera
    4. Internet Explorer 9
    Close